Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Ubuntu

Gnome 3: Missing battery icon

Gambar 1. Logo Gnome Memilih lingkungan destop ( desktop environment  - DE) pada sistem operasi GNU/Linux merupakan salah satu dari sekian banyak keindahan daripada-nya. Selain tentunya kebebasan kita memilih distribusi GNU/Linux mana yang akan kita gunakan, itulah. Sesuatu yang tidak akan kita temukan pada sistem operasi lain, mungkin, karena nyatanya jumlah distribusi GNU/Linux sampai saat ini dipastikan akan terus bertambah seiring dengan banyaknya keinginan pengguna terutama pengguna yang menginginkan kemudahan dalam penggunaan sehari-hari. Ya, sehari-hari. GNU/Linux tidak lagi hanya mendominasi mesin-mesin peladen ( server ) yang hanya dapat digunakan oleh para administrator sistem, atau pun pengembang-pengembang perangkat lunak. Saat ini penggunakan GNU/Linux sudah masuk ke dalam penggunaan di atas meja kerja, destop ( desktop ). Digunakan untuk melakukan kegiatan komputasi atau perkantoran setiap hari. Menulis surat, mencetak, mengirim surel, dan lain sebagainya. Me...

Unable to connect RDP

Gambar 1. Koneksi RDP menggunakan Reminna Beberapa waktu lalu, koneksi ke peladen fax yang digunakan di kantor menggunakan koneksi jarak jauh mengalami masalah. Ngga' bisa dikontak. Entah kenapa, padahal jauh sebelumnya ngga' ada masalah. Oia, kenapa dikendalikan jarak jauh? Karena peladen ini ada di ruangan lain di mana ngga' dimungkinkan buat pasang monitor, papan kunci, tetikus, dlsb. Kendali jarak jauh ini dipake buat memastikan ngga' ada permasalahan sama sistem, karena ini peladen fax. Fax termasuk metode komunikasi yang masih dipakek sama teman-teman di kantor. Karena ada beberapa kegiatan yang beritanya perlu dikirimkan lewat fax. Nah, permasalahannya seperti yang dicantumkan sama judul. Unable to connect RDP . Beberapa diskusi pencerahan dengan kawan, menyatakan bahwa ada sesi RDP yang "nyangkut." Memang diakui, ada beberapa kali sesi yang nge- hang . Entah karena Reminna yang bermasalah atau hal lain. Beberapa kali itu pula saya melakukan for...

diff

Eits, apapun? Koq cuman diff? Ya, lagi-lagi ini sebagai pengingat buat saya kalo saya (pernah) pakek aplikasi ini . Menurut yang saya baca, diff adalah aplikasi pembanding teks. Maksudnya pembanding adalah, untuk melihat perubahan dari suatu teks, disandingkanlah 2 teks yang asli dan yang telah dirubah untuk melihat sejauh mana perubahan yang dilakukan. Dalam hal ini, yang ingin saya bandingkan adalah 2 skrip pada suatu pekerjaan. Yang biasanya saya gunakan adalah Diffuse . Tapi entah kenapa, koq ketika saya butuh, dicari-cari, ngga' ada? Ternyata belom dipasang :D. Diffuse sudah ada di dalam repositori Ubuntu. Tinggal pasang dengan cara kesukaan masing-masing. Awalnya saya bingung, apa nama aplikasinya ya? Tanya-tanya lewat Google, ngga' taunya membawa saya untuk melihat aplikasi lain. Namanya Meld . Weleh-weleh, apalagi ini. Tampilan Meld memang sangat sederhana. Tapi sekilas lintas menurut saya, lebih komprehensif si Meld ini :D. Halah, komprehensif! Wong saya ...

LibreOffice 3.6

LibreOffice. Nama ini muncul sejak perkembangan OpenOffice yang telah diakusisi oleh Oracle (dulu kala, sebelum diserahkan ke inkubator proyek Apache) sangat, sangat lambat. Diduga, Oracle tidak memiliki niat untuk mengembangkan OpenOffice lebih lanjut, sehingga banyak pengembang dari OpenOffice keluar dari proyek dan memutuskan untuk mengembangkan fork  dari OpenOffice dengan nama LibreOffice. LibreOffice dibangun menggunakan kode sumber yang tidak jauh berbeda (kalau tidak mau dibilang sama :D) dengan OpenOffice. Mungkin beberapa pengembang melakukan penulisan ulang atas beberapa bagian yang membangun LibreOffice. Karenanya, perkembangan LibreOffice menjadi jauh lebih cepat dibanding saudaranya, OpenOffice. Namun sejak pengembangan OpenOffice diserahkan ke Apache, sepertinya kita akan memiliki banyak alternatif perangkat lunak perkantoran :). Tentang LibreOffice, sepertinya baru kemarin rilis 3.5 menjadi rilis yang memiliki banyak perubahan dan perbaikan. Dan sepertinya, b...

Intip Versi Ubuntu

Apa yang terjadi apabila kita salah menyetel repositori yang digunakan oleh Ubuntu pada mesin kita? Bencana :(. Sebetulnya, kalau kita jeli, ketika melakukan update,  terlihat cukup jelas versi Ubuntu apa yang repositori-nya sedang di- update . Untuk mencegah kesalahan sepele tersebut, ada baiknya sebelum kita menyetel repositori Ubuntu, kita intip terlebih dahulu versi Ubuntu yang kita gunakan. Caranya: Buka terminal (pintas: ctrl+alt+T) Masukkan perintah: $ cat /etc/lsb-release. Nanti akan menghasilkan keluaran seperti ini: Atau dengan perintah yang sama, namun ganti "cat" dengan "more", seperti, $ more /etc/lsb-release. Keluarannya sama dengan gambar di atas. Bisa juga dengan perintah: $ cat /etc/issue. Keluarannya akan seperti ini: Sama seperti perintah sebelumnya, perintah "cat" pada perintah tadi bisa diganti dengan "more", seperti $ more /etc/issue. Paling tidak, dengan mengetahui versi Ubuntu yang kita gunakan, bisa ...