Unity

Namanya perubahan, pasti akan membawa rasa yang berbeda. Akan muncul perasaan tidak nyaman kala kita "dipaksa" untuk menikmati perubahan yang ada. Walaupun begitu, di lingkungan destop GNU/Linux tidak ada yang namanya pemaksaan absolut. Selalu ada alternatif bagi yang tidak menginginkan banyak perubahan.

Bicara lingkungan destop, pengguna GNU/Linux Ubuntu (Ubuntu) tentu paham dengan Unity. Konsep awal Unity adalah, untuk menyatukan lingkungan destop Ubuntu yang tadinya terpisah antara lingkungan destop untuk PC/Notebook, dengan lingkungan destop pada Netbook. Unity mulai diperkenalkan sejak rilis 10.10 bagi Ubuntu untuk Netbook. Lalu tiba saatnya Unity diumumkan sebagai pengganti Gnome untuk lingkungan destop pada Ubuntu. Revolusi ini dimulai pada rilis 11.04, dengan menjadikan Unity sebagai antarmuka standar bagi lingkungan destop Ubuntu.

Tidak ada yang salah dengan Unity. Hanya saja, perubahan antarmuka yang drastis mengakibatkan banyak pengguna yang merasa tidak nyaman dengan perubahan yang terjadi. Kebiasaan-kebiasaan ini atau yang mungkin biasa dikenal sebagai user experience ini yang sedikit banyak membawa banyak perubahan pada desain Unity dari waktu ke waktu. Saya sendiri baru kembali lagi menggunakan Ubuntu dengan Unity-nya sejak beberapa bulan lalu. Tidak sengaja memang. Saya ingin merasakan kembali rasanya Ubuntu setelah sekian waktu merasakan rasa dari Linux Mint 12 yang juga sama2 berevolusi pada lingkungan destopnya.

Tulisan ini tidak membahas banyak tentang Unity, tapi akan membahas sedikit tentang aplikasi untuk memodifikasi lingkungan destop Unity.

Sebelumnya, untuk melakukan modifikasi pada Unity, saya biasanya menggunakan gnome-tweak-tools atau nama aplikasinya (setelah dipasang) adalah advanced settings. Aplikasi tersebut memberikan banyak pilihan untuk memodifikasi tampilan Unity. Mengganti jenis fonta, mengganti tema, ikon, dll. Intinya untuk mempercantik antarmuka Unity.

Sekarang, saya menggunakan MyUnity. Apa yang disediakan oleh advanced settings, semuanya tersedia di MyUnity. Lalu, kalo semuanya sudah bisa dilakukan di advanced settings, kenapa harus menggunakan yang lain? Alasan saya adalah, MyUnity dibangun khusus untuk Unity. Jadi, apapun yang yang dibangun khusus untuk sesuatu, pastinya akan jauh punya fungsionalitas yang lebih baik, walaupun advanced settings juga memiliki fungsionalitas yang sama baiknya. Tapi, perasaannya beda kala kita menggunakan sesuatu yang dibuat khusus, untuk Unity. Desain, warna, serta antarmuka MyUnity sangat Unity sekali. Eee...itu perasaan saya saja sich. Bisa jadi beda dengan apa yang Anda rasakan :D.

Mungkin tidak semua kebutuhan untuk memodifikasi Unity disediakan oleh MyUnity. Definisi "semua" tergantung pada kebutuhan masing-masing pengguna. Yang mana kalau menurut saya, apa yang disediakan oleh MyUnity sudah lebih dari cukup untuk membuat antarmuka Unity yang saya gunakan "berbeda" dari yang lain :).

Sedikit membahas tentang apa saja yang MyUnity bisa lakukan untuk memodifikasi antarmuka Unity Anda, MyUnity memungkinkan Anda untuk memodifikasi tampilan dari launcher, dash, panel, desktop, fonts, dan theme. Pada launcher Anda bisa memodifikasi tingkat transparansi dari latar peluncur, bahkan ukuran launcher apabila Anda tidak suka ukuran standarnya yang terlihat besar. Lalu pada panel, Anda bisa memodifikasi tingkat transparansi dari panel. Belum tersedia pilihan untuk memindahkan panel, misalkan, ke bawah. Karena secara standar, panel Unity ditempatkan di atas. Pada desktop Anda bisa mengaktifkan ikon-ikon apa saya yang ingin Anda munculkan serta mengatur berapa banyak workspace yang bisa dimunculkan secara vertikal dan horisontal. Dan themes. Di sini kita bisa mengatur tema serta ikon apa yang ingin kita munculkan pada lingkungan destop saat ini.

Ah...setelah membahas sedikit tentang MyUnity, sekarang bagaimana cara memasangnya. Saat ini saya menggunakan Ubuntu 11.10, yang kalau menurut situs MyUnity, cara memasang MyUnity pada untuk Ubuntu 11.04 dan 11.10 adalah dengan memasang repositori PPA MyUnity. Cara menambahkannya adalah:

$ sudo add-apt-repository ppa:myunity/ppa
$ sudo apt-get update
$ sudo apt-get install myunity

Tapi ... entah. Barusan saya coba cek pada software sources pada mesin saya. Saya tidak menemukan repository PPA untuk MyUnity. Aneh. Jangan-jangan memang secara resmi MyUnity sudah masuk ke dalam repositorinya Ubuntu (saya menggunakan cermin repositori dari kambing.ui.ac.id). Ada baiknya, sebelumn menambahkan repositori PPA untuk MyUnity, apabila Anda menggunakan Ubuntu 11.10, coba periksa apakah MyUnity sudah ada dalam repositori yang Anda Gunakan. Caranya, kalo saya menggunakan perintah ini:

$ sudo aptitude search myunity

Output-nya nanti akan seperti ini:

i   myunity                                                 - Unity configurator                                              

"i" artinya sudah terpasang. Kalau isinya "p", artinya belum terpasang. Apabila ada output seperti itu sebelum kita memasang repositori PPA untuk MyUnity, artinya MyUnity sudah masuk ke repositorinya Ubuntu, tanpa kita harus memasang repositori PPA MyUnity. Demikian, semoga membantu :).

Komentar

rotyyu mengatakan…
Saya juga sudah lama ga pake Ubuntu, versi terakhir di laptop adalah Ubuntu 10.04. Sekarang lebih banyak pake Debian+LXDE
buitenzorg812 mengatakan…
karena faktor unity kah, jadi lebih banyak pake debian + lxde?

Postingan Populer